2 0 1 9 :

1. Renovasi rumah selesai, bisa pindah
2. Mulai hidup sehat
3. Mulai bergerak
4. Belajar home decor
5. Toilet training anak kicik
6. Holiday bertiga go somewhere
7. Belajar sabar
Beberapa minggu belakangan rasanya engap banget soal kerjaan. Karena satu dan lain hal bikin kerjaan jadi nano-nano belakangan ini, ditambah ada satu hal yang harus diurus ke bank bulak balik sehingga memakan waktu yang bikin waktu kerja ngga efektif. Long story short, I need some space for my personal reasons. Akhirnya terlintaslah ide kerja di coworking space.

Mungkin terdengar random sih ya, haha. Tapi aku butuh satu waktu yang ga diganggu siapapun di kantor dan konsen buat beresin beberapa list to do kerjaan dan my personal business. Akhirnya aku ngajuin cuti dan memutuskan untuk getaway ke coworking space. Hal ini didasari karena ga pengen kerja di kantor dan ga bisa kerja di rumah karena pasti keskip main sama bayik..hehe.

Pilihan pertama coworking space yang dicobain adalah Satu Atap. Petugasnya ramah sih. Aku nyobain jadi member dengan alasan sisa waktu bisa diakumulasi, jadi besok-besok kalo pengen getaway lagi bisa kesini. Cobain dulu kerja 6 jam disini.

Awalnya sih smooth. Namun kemudian ada suara orang jeduk2 memperbaiki sesuatu di atas. Ternyata ada satu bagian yang direnov di atas. Namun karena niat awalnya menyendiri, suara-suara ini lama-lama gengges juga. Jadilah kerja sambil nggerundel. Mau kabur juga nanggung karena sore udah ada janji ke RS. Yoweslah ditahanin sampai kelar.

Di samping ada semacam tenant-tenant penjual makanan ringan dan berat. Namun ternyata ngga sesuai harapan dan ada kucing yang ngikut di bawah meja..ergh. Trus di jam-jam terakhir ada nyamuk di meja 😑

Barusan kemarin aku nyoba tempat lain. Jadilah ke Sub Co di Spazio Building. Tempatnya formal sih, namun yang penting tenang dan nyaman. Bersih dan modern, dan juga tinggal sepelemparan batu dari mall. Ada area outdoor di bawah yang ngikut sama punya Spazio, lumayan buat stretching dan menghirup udara segar kalo udah bosen di meja. Mungkin lain waktu kalo mau kabur dari kantor bisa kesini lagi.

Ternyata ada gunanya juga getaway semacam ini. Buat aku sih ini penting buat recharge dan bernapas sejenak dari kondisi sehari-hari. Plus bisa ngurusin urusan pribadi tanpa ada rasa ngga enak ditanyain kiri kanan atau kedistract kerjaan ini dan itu 😄
Rencana playdate dengan temen kuliah sudah ada mulai lama, namun waktu dan tempat susah banget ketemuinnya. Akhirnya setelah bertaun lamanya direncanakan, berhasil juga playdate ke Kidzoona kemarin.

Kidzoona di hari libur sungguh seperti dawet sodaraaa. Dengan keterbatasan loker, tas-tas akhirnya bisa ditaruh begitu saja di atasnya. Dan kemarin yang paling bikin sebal adalah ada anak-anak usia SD yang main lari-larian dan battle pake sponge gede-gede sepanjang gagang sapu..alamaakk. Kan yang bayi dan balita jadi waswas gini emaknyaaa. Anak kicik merapat di kolam bola sih sebenernya udah cukup. Ngga perlu ke zona lain yang rawan kayak tadi. Tapi tetep aja sih..pemandangan yang rame dengan adanya gangguan-gangguan tadi cukup bikin sumpek.

Dan ternyata baru tau juga kalo jaman now traktiran ulang tahun ga cuma bisa traktir makan, namun juga bisa traktir main di kids playground macam Kidzoona ini 😆

Last but not least, poto dulu lah


Hari ini kebetulan mau ngajak anak kicik dan si bibik jalan-jalan makan bebek. Dan mas bojo punya ide gimana kalo ke Bangkalan makan bebek langsung di warung Bebek Sinjay yang asli. Jadilah agenda Hari Minggu berangkat pagi-pagi lewatin Suramadu untuk sarapan bebek 😆

Pulang dari Madura akhirnya si anak kicik bobok juga setelah heboh di perjalanan. Mau dengerin radio atau Spotify pasti gagal karena anak kicik lagi seneng-senengnya explore dashboard. Barulah setelah doi bobok kami bisa denger radio dengan proper.

Ada radio yang muterin lagu 90's up to now dan kebetulan tadi ada lagunya Rick Price yang Heaven Knows. To be honest aku anaknya agak jadul gaes, aku suka dengerin radio Kosmonita jaman SMP yang mana lagunya sering jaman old. Tahulah anak SMP juga masa alay taksir-taksiran. Jadi kayaknya kalo ada lagu jaman old suka jadi pengen ketawa kalo inget kebiasaanku di masa itu.

Nyari liriknya di Google dan sedih sendiri. Yang keinget adalah cerita pacar pramugari Lion Air yang jadi korban jatuh di Kep. Seribu kemarin. Mereka udah mau nikah tahun depan. Gimana hancurnya hati si pacar waktu denger berita itu yah? Huhu. Let's check it out

Heaven Knows
She's always on my mind
From the time I wake up 'til I close my eyes
She's everywhere I go
She's all I know
And though she's so far away
It just keeps gettin' stronger, every day
And even now she's gone
I'm still holding on
So tell me where do I start
'Cause it's breakin' my heart
Don't want to let her go
Maybe my love will come back some day
Only heaven knows
And maybe our hearts will find a way
Only heaven knows
And all I can do is hope and pray
'Cause heaven knows
My friends keep tellin' me
That if you really love her
You've gotta set her free
And if she returns in kind
I'll know she's mine
So tell me where do I start
'Cause it's breakin' my heart
Don't want to let her go
Maybe my love will come back some day
Only heaven knows
And maybe our hearts will find a way
Only heaven knows
And all I can do is hope and pray
'Cause heaven knows
Why I live in despair
'Cause wide awake or dreaming
I know she's never there
And all the time I act so brave
I'm shaking inside
Why does it hurt me so
Maybe my love will come back some day
Only heaven knows
And maybe our hearts will find a way
Only heaven knows
And all I can do is hope and pray
Maybe my love will come back some day
Only heaven knows
And maybe our hearts will find a way
Only heaven knows
And all I can do is hope and pray
'Cause heaven knows
Heaven knows
Heaven knows
Heaven Knows lyrics © EMI Music Publishing
Melanjutkan pengalaman naik angkutan umum, tahun ketiga saya bekerja di daerah bandara. Praktis motor dibawa ke tempat baru ini karena kendaraan umum susah sekali ditemui dan tidak ada akses yang cepat untuk masuk ke wilayah perkantoran di dalam bandara selain angkutan umum sejenis shuttle yang jam berangkatnya tidak pasti. Naik motor menjadi alternatif terbaik agar cepat dan tidak ribet sampai di kantor.

Ketika masih single, weekend adalah hari berkumpul dengan teman-teman. Kos yang menjadi basecamp waktu itu ada di Setiabudi. Saya menempuh perjalanan panjang cukup lama menggunakan KRL. Namun jika dibandingkan dengan naik bus, KRL relatif memudahkan karena kos saya dekat dengan stasiun. Dimulai dari parkir motor di Stasiun Tangerang lalu naik sampe Stasiun Duri. Kemudian transit naik KRL jurusan Jatinegara-Bogor yang melewati Stasiun Sudirman. Dari Sudirman jalan kaki sampai Setiabudi. Mungkin sekali jalan dari Tangerang ke Setiabudi bisa sampai 2 jam perjalanan. Itulah kadang yang membuat perjalanan ke kota terasa penuh halang rintang 😅.

Sesekali saya berkunjung ke rumah kakak di Cikeas. Itu perjalanan dari barat ke timur yang cukup effort. Dulu ketika masih kos di belakang bandara saya naik bis Damri dong dari terminal di bandara. Setelah pindah ke Kota Tangerang saya ke Cikeas dengan cara seperti rute tadi tapi dari Stasiun Sudirman naik Kopaja 19 ke Plasa Semanggi lalu lanjut bis Mayasari Bakti jurusan Cileungsi. Kadang kalau sudah menempuh perjalanan seperti itu lalu di bis ada pengamen yang menyanyikan lagu dengan syahdu rasanya bawaannya mellow deh. Semacam kenapa aku ada di sini, sendirian, jauh dari siapa-siapa, agak lebay si, tapi itulah adanya 😅. Sampai di Cikeas rasanya super capek deh 😆.

Pernah di beberapa bulan sebelum menikah saya kontrak di daerah Ciputat dekat Bintaro. Rutenya lebih ekstrim lagi kalau mau ke Cikeas. Dari kontrakan naik angkot atau motor ke Stasiun Sudimara atau Jurangmangu. Naik KRL jurusan Serpong-Tanah Abang turun di Tanah Abang. Turun Sudirman, naik Kopaja 19 ke Plasa Semanggi. Lalu naik Mayasari Bakti ke Cikeas. Yang bikin usaha adalah naik bis dari Tanah Abangnya karena harus bergumul dengan emak-emak dengan bawaan segambreng. Pernah bapak ibu sedang berkunjung ke kontrakan di Jakarta dan diantar suami ke Cikeas. Pulang-pulang mas bojo cerita kalau mereka tegang sepanjang perjalanan dan bolak-balik komentar kalau saya kasihan hidup di Jakarta dengan kondisi jalanan dan transportasi yang jauh kemana-mana, hahaha. Setelah itu mereka ngga pernah ke Jakarta sama sekali, ngga enak katanya 😆

Well setelah pindah dari ibukota memang saya tidak pernah berpetualang naik transportasi umum sih. Lebih dikarenakan karena ketika saya pindah, transportasi online sudah menjamur dan mudah diakses dari mana-mana untuk ke mana-mana. Mungkin kalau belum ada transportasi online akan ada tulisan Part Four kali yah 😄. Paling ke Malang dengan bis atau kereta Penataran yang relatif masuk akal jarak tempuh dibandingkan waktu tempuhnya. Jadi petualangan ngangkot ngereta ngebis yang aneh-aneh sudah cukup di masa rantau yang lalu lah ya 😅.
Gegara sekarang udah ada anak kecil di rumah, mulailah berburu lagu anak buat diputerin di TV biar ngga terbiasa pegang-pegang HP. Dari beberapa pengalaman sodara yang punya anak kecil, once mereka dikenalin HP dengan intens, pasti bakal susah banget lepasnya. Karena itu buat si anak kicik kami juga berusaha untuk ngga kenalin dia dengan HP sedari dini. Memang tidak bisa 100 persen, tapi setidaknya berusaha diminimalisir lah.

Yang sekarang sedang jadi idola adalah lagu Johny Yes Papa. Ini pun taunya juga gara-gara keponakan muterin lagu ini di rumah buat Risyad. Walhasil carilah lagu ini di Youtube dan didownload serta diputerin di TV pakai flashdisk. Lumayan buat alternatif tontonan Risyad daripada diputerin si bibik sinetron azab muluk.

Kurang lebih seperti ini liriknya :

Johny, Johny,
Yes papa?
Eating sugar?
No papa.
Telling lies?
No papa.
Open your mouth.
Ha ha ha!

(source : Wikipedia)
Keponakanku datang menginap ke rumah weekend ini. Kebetulan doi mahasiswa semester akhir yang sudah jarang jadwal kuliahnya. Lumayan banget buat nemenin si bibik biar ngga bosen di rumah. Si bibik biar hepi dan ada temen ngobrolnya.

Si keponakan adalah mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia. Ada satu lagi keponakan yang ambil jurusan sama tapi baru masuk kuliah. Just wonder sih, apa yang bakal aku hadapi kalau aku memilih jadi mahasiswi jurusan yang sama yah? Mungkin aku akan sangat sering berhubungan dengan majas, karya sastra, istilah kebahasaan semacam diksi dkk yang mengingatkan pelajaran Bahasa Indonesiaku waktu SMA 😆. Pelajaran Bahasa Indonesia waktu itu justru jadi mata pelajaran cukup menegangkan karena guru yang mengajar punya standar cukup tinggi. Sistem pembelajaran dan soal-soalnya sophisticated, Bahasa Indonesia terasa jadi pelajaran yang sama susahnya seperti pelajaran ilmu pasti macam matematika fisika dan kimia 😑.

Sekalipun begitu, ada satu puisi di buku pelajaran Bahasa Indonesia waktu itu yang cukup iconic dan membekas di hati karena isinya menurutku dalam dan patut direnungkan. Di tengah dunia orang dewasa yang saat ini sudah mulai dijalani dan dirasakan asem manisnya, lirik-lirik puisi ini cukup menyentuh dan patut diambil hikmahnya.

Menyesal

oleh: Ali Hasjmi

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di pagi hari
Menuju arah padang bakti