Setelah kuliah semester 1 naik angkot dengan konsekuensi pengeluaran membengkak akibat tarif yang dikenakan tidak lagi anak sekolah, tibalah saatnya saya naik motor sebagai alat transportasi. Itu dilakukan sejak semester 2 sampai lulus kuliah. Terbukti setelah naik motor pengeluaran berkurang drastis, namun sebenarnya alokasi lain yang bertambah, yaitu munculnya kredit sepeda motor.

Lulus kuliah saya kerja di Jakarta dan berkenalan dengan banyak jenis angkutan umum yang sangat bervariasi, mulai dari bis, KRL, ojek, bajaj, kopaja, metromini, taksi, dsb. Tahun pertama saya menjadi pelanggan setia kopaja 19 trayek Tanah Abang-Ragunan yang melewati kos di Bendungan Hilir dan kantor di Sudirman. Jaraknya sangat dekat, namun tidak mungkin juga jalan kaki (walaupun pernah dicoba dan itu cukup bikin jadi olahraga malam waktu itu). Trayek ini cukup banyak diminati, jadi ketika pulang tenggo, malah harus berebut untuk bisa masuk kopaja. Seringkali saya naik kopaja ini berdiri, baik berdiri di dalam atau di pintu kopaja. Untuk beberapa hal, saya lebih suka jika berdiri di pintu saja karena hemat waktu untuk naik dan turun 😆. Saya menggunakan kopaja selama 2 tahun pertama bekerja, untungnya mostly saya di luar kota, jadi tidak setiap hari juga berebutan kopaja dan berdiri di pintu kopaja.

Alternatif lain adalah menggunakan bus transjakarta. Trayeknya adalah Blok M-Kota. Namun jika naik bus ini selain lebih mahal (waktu itu kopaja 2.000 rupiah dan bus transjakarta 3.500 rupiah), setiap naik dan turun bus kami harus jalan dari pinggir jalan ke halte. Itu cukup menyita waktu dan tenaga, belum lagi kalau berangkatnya mepet. Berati harus lari-larian di saat orang lain jalan normal.

Sesekali saya ke tempat lain menggunakan metromini atau KRL. Di situlah seninya mencari alternatif transportasi. Tahun ketiga dan seterusnya saya pindah tempat kos dan petualangan mencari angkutan umum tetap tidak terganti.
Pertama kali naik angkutan umum seumur hidup yang masih bisa diingat mungkin antara mikrolet/dokar/ojek/colt. Sejak lahir sampai umur 8 tahun saya tinggal di Lawang, Kab. Malang yang waktu itu angkutan umum masih menjadi idola. Ada mikrolet LA (Lawang Arjosari) yang sampai sekarang masih ada dengan cat hijau mudanya, ada colt (semacam mobil diesel) yang rutenya mirip dengan LA tapi kayaknya agak lebih panjang, dan tidak lupa ada dokar (delman roda dua yang ukuran rodanya besar), dan ojek pengkolan. Di sana tidak ada becak, mengingat kondisi geografis yang mirip perbukitan dengan kondisi aspal jalan yang tidak terlalu bagus. Waktu itu saya masih terlalu kecil untuk bisa naik angkot sendiri. Oh ya, di Lawang ada juga lokasi tempat pemberhentian bus yang berangkat dari Arjosari. Lawang adalah kecamatan yang menjadi lokasi perantara Malang-Surabaya dan sering kali dilewati mobil luar kota. Karena jalanan di sana adalah jalanan yang menjadi penghubung antar kota dan antar propinsi, ditambah kondisi geografis yang naik turun, sering kali terjadi kecelakaan di daerah sana. Pengemudi yang melintasi daerah tersebut diharap ekstra hati-hati.

Pindah ke daerah Sengkaling di umur 8 tahun, saya mulai berkenalan dengan mikrolet BL (Batu Landungsari) berwarna ungu atau KL (Karangploso Landungsari) berwarna putih yang menjadi tandem saya ketika masih jaman sekolah menengah. Saya baru diijinkan naik angkot sendiri kelas 6 SD, sebelumnya masih diikutkan antar jemput. Rumah saya ada di Kab. Malang yang sangat dekat dengan perbatasan. Agak nanggung naik angkot ke Terminal Landungsari karena jaraknya cukup dekat. Setelah sampai Landungsari lalu oper angkot ke Kota Malang. Oper-operan ini yang kadang suka lama dan bikin malas.

SD naik BL/KL disambung AL (Arjosari Landungsari) atau GL (Gadang Landungsari). Waktu SMP, sekolah saya lebih jauh, sambungannya cuma bisa dengan ADL (Arjosari Dinoyo Landungsari). Bisa sih dengan menggunakan AL, tapi suka lama dan sering kali tidak mengantarkan sampai Arjosari. Padahal SMP saya termasuk SMP yang di rute hampir dekat ke arah Arjosari. Waktu itu angkot betul-betul idola dan ditunggu-tunggu kedatangannya. Jaman SMP saya sering main ke Sawojajar karena teman sekolah saya mostly tinggal di sana. Angkot MM yang ngetem di Klojen dan lewat Sawojajar pasti diperebutkan anak-anak sekolah sampai luber-luber. Yang jadi pe er dalam perangkotan ketika SMP adalah jadwal sekolah saya yang masuk siang selama 1,5 tahun. Pulang sekolah waktu masuk siang adalah jam 17.00 dimana rasanya sudah super malam sampai di rumah. Jarak SMP ke rumah cukup jauh, tiap hari paling cepat jam 18.00 sampai rumah. Sering kali jam 18.15 sampai 18.30 baru sampai rumah, karena kena waktu ngetem di Landungsari. Dan itu terjadi kelas 1 dan 2 SMP, yang mana anak baru lulus SD masih ada di jalan malam-malam karena keadaan, huhu. Kayaknya kalo itu terjadi di jaman sekarang bikin orang tua was-was mungkin ya, mengingat kondisi sekarang yang rawan tindak kriminal dimana-mana.

SMA sekolah saya lebih dekat daripada SMP tapi masih satu jalur. Tidak ada adaptasi lagi dalam perangkotan. Begitu pula dengan kuliah, yang jaraknya lebih dekat lagi ke rumah. Saya kuliah membawa motor, tapi di semester pertama sempat naik angkot beberapa bulan. Yang jelas ketika kuliah jika naik angkot mahal di ongkos, karena sudah harus bayar tarif orang dewasa, bukan lagi anak sekolah, hehe. Itu yang mendorong untuk segera bawa kendaraan sendiri, mengingat harus oper-oper angkot di Landungsari yang makin makan waktu dan biaya. Say bye bye to angkot...
Buat yang kelahiran sekitar akhir 80-an atau awal 90-an, di tahun 2000 awal pasti pernah denger lagunya First Love by Utada Hikaru yang jadi soundtracknya film dorama Jepang Terms for a Witch. Sesungguhnya udah lupa sih sama doramanya sendiri, habis ceritanya ngga mengenakkan untuk dilihat anak sekolahan waktu itu. Ceritanya tentang cinta terlarang antara Guru SMA cewe sama murid cowonya gitu deh. Karena menurutku (di kala itu yang masih jadi murid SMP) agak aneh dan ekstrim, jadi kuputuskan ngga ngikuti doramanya dan ngedengerin soundtracknya aja lah.

Kebetulan lagu ini liriknya mix bahasa Jepang dan Inggris. Sesungguhnya ngga ngerti-ngerti amat artinya apaan waktu itu, apalagi yang bagian bahasa Jepang. Namun demikian, lagu ini booming di masa-masa umur puberku, di saat mulai ngerasain first love juga, hahahaha #alaymodeon. Hayo ngaku deh yang seumuranku (terutama cewe2 sih, kalo cowo mah ngga kepikiran kali ya), ngedengerin lagu itu pasti bikin keinget taksiran di masa puber, hahaha. Let's check it out!

Lyrics from : https://www.lyricsmode.com/lyrics/u/utada_hikaru/first_love.html

Saigono kissu wa
Tabako no flavor gashita
Nigakute setsunai kaori

Ashita no imagoro ni wa
Anata wa doko ni irun darou'
Dare wo omotte 'run darou'

You are always gonna be my love
Itsuka dare kato mata koi ni ochitemo
I'll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Imawa mada kanashii love song
Atarashi uta utaeru made

Tachidomaru jikan ga
Ugoki dasou to shiteru
Wasuretakunai koto bakari

Ashita no imagoro ni wa
Watashi wa kitto naiteru
Anata wo omotte 'run darou'

Yay yay yeah

You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Imawa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made

You are always gonna be my love
Itsuka dare kato mata koi ni ochitemo
I'll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Mada kanashii love song yeah
Now & forever ah...
Ini adalah hari pertama bapak ibuk anak berada di kota yang berbeda. Sebenarnya sudah ada rencana buat mengajak anak kicik dan si bibik pindahan ke Sidoarjo sejak akhir bulan kemarin. Tapi berhubung mau ditinggal si bapak dinas dua minggu, nanti saja diundur setelah si bapak selesai dinas, mengingat barang bawaan cukup banyak dan pekerjaan beberes yang sepertinya berkelanjutan pasca si anak kicik pindah ke sini.

Ini pertama kalinya kami bertiga berada di tempat yang beda-beda untuk jangka waktu yang cukup lama. Sempat sih beberapa kali, tapi itu pun cuma sehari waktu saya dinas luar kota. Sekarang akan ada dua weekend saya ke Malang sendiri dan kembali ke Surabaya sendiri.

Di rumah sendiri membuat flash back beberapa tahun lalu ketika memulai bekerja dan hidup sendiri. Tahun pertama dan kedua masih ada teman sekamar tapi kami sama-sama ada klien luar pulau berbulan-bulan. Tahun ketiga sampai kelima LDR. Tahun keenam LDM. Tahun ketujuh long distance sama anak kicik. Ini tahun kedelapan masih long distance sama anak kicik, soon to be nggak lagi lah. Sudah cukup. Apalagi dua minggu ini pencar-pencar semua. Cukup jadi penghujung cerita long distance lah ya.

Long distance jaman masih pacalan waktu itu masih dikelilingi temen-temen yang sesama single *dalam artian belum nikah, entah ada pacar atau tidak. Hari-hari selain ngantor juga diisi dengan kegiatan di luar kantor yang cukup beragam. Weekend masih bisa bangun siang dan doing nothing sampai sore cuma mandi sehari sekali 😆. Ketika menjelang masa kawin tiba (kebetulan teman sepermainan di kantor usianya ngga jauh beda dan hampir bersamaan nikahnya), muncullah jadwal kondangan kesana-sini. Sempet juga ada jadwal nganterin cari seragam, cari undangan, cari souvenir, jadwal akad, jadwal resepsi, macem-macem. Jaman masih gadis juga jaman masih bisa, sempat, dan mau travelling backpacker. Ada jadwal sama si ini, si itu, kesana, kesini. Bukan berarti sekarang ngga mau backpackeran lagi, tapi sepertinya harus ditahan dulu sampai anak sudah bisa diajak backpackeran juga 😄

Long distance waktu sudah menikah tidak jauh berbeda dengan masih pacalan. Bedanya jadi lebih sering pulang atau dikunjungi daripada sebelumnya. Kegiatan sehari-hari sama saja dengan waktu masih single semasa bukan jadwal kunjungan. Sempet ada istilah jomblo wilayah juga waktu itu. Ketika waktunya berkunjung barulah rasa rumah tangga itu ada 😅. Pun demikian dengan hubungan ke mertua atau keluarga besar suami. Masih belum nge-blend karena masih super jarang ketemunya.

Kalau long distance waktu sudah ada anak dibahas lain kali deh. Nanti makin mellow ngga bobok-bobok. Anyway, enjoy this Sunday night everybody!
Wanita dengan bermacam perubahan fase kehidupan sangat mungkin mengalami perubahan fisik dan mental. Wanita yang dituntut untuk multi tasking, beradaptasi dengan cepat dalam segala keadaan yang sedang dihadapi, dan bermacam pekerjaan rumah ataupun di luar rumah yang harus diselesaikan, memberikan pressure yang nyata bagi seorang wanita.

Mommy wars muncul akibat kurang bijaksananya seorang ibu dalam menyikapi fenomena sesama ibu. Padahal sama-sama seorang ibu, tetapi entah kenapa malah kurang tenggang rasa diantara ibu-ibu pelaku mommy wars tersebut. Tentu siapapun tidak ingin dicap "kurang atau bahkan tidak berusaha" menjalani perannya sebagai seorang ibu. Namun kadang manusia lupa bahwa tiap individu memiliki kadarnya masing-masing. Sungguh tidak bijaksana jika beranggapan apa yang dilakukannya adalah paling benar, dan memberikan komentar-komentar negatif atau bahkan menyalahkan ibu lain yang tidak melakukan hal yang serupa dengannya.

Ya, saya melahirkan melalui SC. Saya mengalami infeksi ketika persalinan dan denyut jantung bayi yang makin cepat membuat dokter obgyn memutuskan untuk menaikkan saya ke meja operasi demi keselamatan kami berdua. Ketika bayi sudah lahir ternyata baru diketahui bahwa tali pusatnya pendek, dan ini tidak bisa diprediksi sebelum kelahiran melalui USG. Tali pusat bayi yang hanya sekitar 15-20 cm tentu akan beresiko tinggi jika dipaksakan untuk dilahirkan secara normal. Semacam bayi saya melakukan bungee jumping, sudah berusaha masuk panggul tapi mental naik lagi. Jadi, saya tidak berkecil hati meskipun saya tidak bisa melahirkan dengan normal. Ini adalah jalan terbaik bagi kami.

Ya, saya mengalami baby blues. Perubahan hormon, perubahan keadaan dari hamil ke newborn baby mom, membuat saya stress. Saya tidak bisa beradaptasi dengan cepat dan enjoy pengalaman baru sebagai ibu baru. Saya menjalani operasi SC dimana saya butuh waktu lebih banyak untuk recovery. Saya panik dan akibatnya sinyal di otak tidak cukup memproduksi ASI.

Ya, saya exclusive pumping mom alias tidak direct breastfeeding alias tidak bisa menyusui bayi secara langsung. ASI saya terbatas karena stress tadi. Saya bermasalah dengan pelekatan, saya tinggal berjauhan dengan bayi, dan saya mengalami mastitis sehingga harus ke dokter bedah beberapa kali dan sampai sekarang masih harus rutin kontrol 6 bulan sekali. Tentu saja saya juga menggunakan susu formula untuk bayi saya karena berat badannya belum kembali normal di usia 3 minggu. Rencana awal yang hanya akan menggunakan sufor di awal-awal berubah seketika menjadi tandem ASI sufor sampai sekarang dengan proporsi ASI lebih sedikit daripada sufor karena setelah mastitis produksi ASI saya terjun bebas. Jangan ditanya asal muasal dan bagaimana rasanya rangkaian hal tersebut, mungkin perlu satu tulisan lagi khusus membahas hal itu. Post labour saya stress luar biasa, ditambah baby blues di awal kelahiran, bukannya happy tapi malah jadi sedih mellow sensi baper ga karuan.

Ya, saya working mom yang bekerja di luar rumah, di mana hal ini bisa menjadi hal yang dilematis ketika sudah menjadi ibu. Dengan kondisi saat ini yang juga masih berjauhan dengan anak kicik, tentu hal tersebut akan menjadi hal yang tidak menyenangkan untuk dijalani. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu dan rencana-rencana yang ingin diraih, tentu saya masih ingin memiliki harapan dan semangat untuk menjalani apa yang saat ini sedang terjadi.

Pada akhirnya parenting adalah sebuah proses, bukan hasil. Proses yang mengharuskan kita untuk terus menerus belajar, trial and error, membaca dan mencari sumber pengetahuan baru, pun sedikit demi sedikit membersamai anak hingga kita kenal seperti apa anak kita dan cara mendidik yang bagaimana yang tepat untuknya. Tidak ada ibu yang sempurna, tapi setidaknya kita berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Apalagi di saat masih punya anak bayik balita seperti ini, mungkin saya bukan siapa-siapa bagi dunia, tapi saya adalah dunia bagi anak saya.

Fighting!
Pagi ini tadi tetiba baca FB temen dan terinspirasi buat ngepost tema yang serupa. It's about mommy wars. Hal yang ngga akan ada habisnya jika kita sudah tanpa sadar terjebak di dalamnya.

Sharing temen tadi menceritakan bagaimana mommy wars yang terus diperdebatkan seperti SC vs normal, ASI vs formula, ada yang postpartum depression vs feeling great after labour, working mom outside of the home vs working mom at home vs stay at home mom, ada yang menerapkan peaceful parenting vs tidak, ada yang punya anak pertama di umur hampir 40 dan hampir 20, semacam itu. Hal-hal tersebut adalah pilihan dan keadaan yang ibu jalani semata-mata demi kebaikan ibu dan anak. Tidak perlu dicari-cari kesalahannya yang berujung menyakiti hati seseorang, walaupun misalnya bermaksud baik. Namun maksud baik jika tidak dilakukan dengan cara yang baik maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Disadari atau tidak, ternyata dengan bertambahnya umur dan bertambahnya step kehidupan, ada banyak perubahan baik dari diri sendiri maupun lingkungan yang bikin personality seseorang berubah. Apalagi seorang wanita, khususnya seorang ibu, yang mengalami perubahan drastis dalam hidupnya hanya dalam jangka waktu yang tidak terlalu panjang. Let's say anak perempuan mengalami haid pertama di umur 12 tahun (sekarang sudah ada yang umur 9 tahun). Anak gadis menikah rata-rata umur 25 (setidaknya paling cepat lulus sekolah SMA lah baru menikah). Hamil paling cepat beberapa minggu setelah menikah. 9 bulan kemudian menjadi ibu. Paling cepat sekitar 6 bulan kemudian hamil lagi, dst. Artinya dalam usia belasan akhir atau 20-an seorang wanita akan bertubi-tubi berganti gelar hingga jadi seorang ibu. Padahal satu step saja luar biasa sekali rasa yang ditimbulkan, baik yang bikin hepi atau sebaliknya. Dan perlu diingat bahwa tiap step memiliki konsekuensi yang berbeda.


Nyemplung lagi ke dunia perdrakoran 'on going' setelah belasan tahun rasanya sungguh nano-nano..huff. Kayaknya terakhir nonton drakor sekitar tahun 2015 di jaman Descendants of The Sun dan Kill Me Heal Me. Itupun drakor maraton yang baru ditonton setelah banyak denger review sana sini yang bilang ceritanya bagus, episode tayangnya di TV udah tamat, dan udah tau endingnya ngga akan aneh-aneh. Waktu itu ngga kepikiran aja sih untuk nonton-nonton drakor apalagi yang on going, males downloadnya, dan yang paling berbahaya adalah takut addicted to drakor 😅. Kalo maraton kan dimelek-melekin seharian dan mager ga usah kemana-mana juga udah abis rasa penasarannya. Nonton episode dirapel juga bisa. Kalo yang on going? Ya wassalam, mamam tuh penasaran berhari-hari 😆.

(source : en.wikipedia.org)

(source : content.mbc.co.kr)

Masih keinget tuh rasa nano-nano nonton drama on going waktu jaman masih SMA. Ada Full House, My Sassy Girl, dan Jewel in The Palace yang diikutin banget dan meresap ke dalam hati. Kalau jaman sebelumnya lagi masih jaman drama Taiwan semacam Meteor Garden, My MVP Valentine (aihhh ketauan deh umurnya). Ditambah dengan tingkat ke-alay-an anak SMP di masa itu yang ngefans abis sama F4, kayaknya kalo diinget-inget jadi malu sendiri deh hahahaha (tapi tenang, ke-alay-an ngga sampe koleksi poster dan kalender gambar F-4 kok 😂)

(source : asianwiki.com)

(source : idntimes.com)

(source : pinterest.com)

Kalo masa masih kecil-kecil alay dramanya ini nihh

(source : wikipedia.com)

(source : oneandstory.blogspot.com)

Daann mendadak nonton drakor on going di masa tua udah ibuk-ibuk gini adalah berawal dari postingan account IG yang biasa update episode Running Man (Running Man ngga bikin addicted buat aku, cuma sesekali liat games2nya dan kelakuan member Running Man yang konyol aja, udah, abis), doi mendadak ngepost scene-scene drama Why Secretary Kim yang waktu itu baru jalan 2 episode. Penasaran sama isi dramanya, akhirnya lambat laun ngikutin lah scene-scene yang dipost sama account itu tadi. Makin ngga puas dengan scene yang dipotong-potong, mulailah beralih ke account di LINE yang ternyata biasa ngepost drakor-drakor baru full episode dalam Bahasa. Yah namanya jalan ceritanya makin bikin penasaran, mulailah nyari di Youtube, ada ngga yang langsung posting setelah drama tayang. Karena ceritanya ni drama tayang di TV Korea sono Hari Rabu dan Kamis malam, sedangkan account LINE itu baru posting di Kamis dan Jumat siang-sore (ya eyalah, kan diedit dulu scene-scenenya biar bisa dibagi-bagi dalam beberapa postingan, belum lagi translate bahasanya), lama-lama ngga sabar juga nunggu account LINE. Mulai deh tuh nyari-nyari di Youtube. Dan beruntunglah stasiun TV sana langsung menayangkan di portal resminya dia full episode yang lagi tayang malam itu. Walaupun ngga ngerti drakornya ngomong apa, setidaknya udah bikin rasa penasaran terobati sedikit lah.

Begitulah Why Secretary Kim ditonton sampai selesai, dengan rasa nano-nano nunggu postingan tiap minggunya, penasaran dan kepo dengan progress ceritanya, sampai browsing-browsing cast nya..hahahah. Mulailah kehaluan addicted to drakor dimulai. Tapi setidaknya addicted nya ngga parah-parah amat. Mungkin karena dirasa-rasa agak kurang sreg dengan bumbu cerita berupa kiss scene dan bed scene yang bertebaran dimana-mana ya. Tipe drama yang sebelumnya aku tonton ngga pernah yang gitu-gitu amat sih (mungkin beda selera aja penonton drakor satu dengan lainnya).

(source : en.wikipedia.org)

Nahh sekarang nih lagi seneng-senengnya nonton drakor Thirty But Seventeen. Lanjutan dari liat account-account IG juga sebenernya. Tapi entah kenapa drakor yang ini bikin gemassshh. Di samping castnya yang cuties, jalan ceritanya juga menarik. Ini termasuk drama yang light sih, comedy-romance yang ngga perlu bikin kening berkerut karena mikir soal pembunuhan atau misteri atau intrik sosialita. Realistis banget menurutku, dan buat sedikit nostalgia jaman SMA masuk juga. Tipe drama yang bisa bikin rileks dan bahagia tanpa harus berpikir berat karena tiap hari juga udah mikir berat *eh 😅

Bercerita soal gadis SMA umur 17 tahun bernama Woo Seo Ri yang harus terbaring koma akibat kecelakaan selama 13 tahun dan baru tersadar di usia 30 tahun. Dia harus beradaptasi dengan tubuh barunya yang sudah dewasa namun mental dan pikirannya masih remaja. Dia bertemu dengan Gong Woo Jin, pria 30 tahun seorang stage designer yang memiliki trauma masa lalu yang kelam sejak SMA hingga merubah kepribadiannya menjadi seseorang yang tidak peduli dengan sekitarnya.

(source : en.wikipedia.org)

Sama seperti waktu masih nonton Why Secretary Kim, drakor kali ini juga diawali dengan update di LINE, terus karena lama updatenya akhirnya scrolling ada account IG personal seseorang yang suka nonton live streaming dan memposting scene by scene di lapaknya. Kebetulan portal resmi stasiun TV nya ngga kayak Why Secretary Kim yang langsung posting episode terbaru real time. Dan bukan itu aja yang akhirnya aku pantau. Ada beberapa fanbase drakor ini yang aku pantau juga. Sesekali mereka posting moment-moment di drakor, dengan caption segala rupa, eh kok aku doyan dengan postingannya dan baca comment-comment yang masuk ya? Gawat. Mulailah kehaluan dimulai 😥😱

Drakor ini tayang di Korea Senin malam dan Selasa malam. Jadi Senin malam pantau scene live streamingnya yang tanpa translation. Selasa siang liat lagi full episode yg udah ada translationnya. Selasa malam pantau scene live streaming lagi. Rabu siang full episode lagi. Kamis sampai Senin cek account-account IG, siapa tahu ada spoiler-spoiler atau info lainnya. Hiyaaa...gini amat sih An??? Yah begitulah kalo udah addicted, tanpa sadar jadi tune in sekali sama drakor itu. Apalagi drama on going, rasa penasarannya jadi berkali-kali lipat. Bapernya awet. Bahkan ada caption yang soooo trueee di salah satu IG fanbase tadi. "I invested so much feeling in this drama" 😭

Minggu depan udah masuk episode terakhir. Rasanya nano-nano bangettt. Antara penasaran sama endingnya, ngga pengen pisah sama drakornya, baper sama scene-scenenya, halahh. Kayaknya harus pikir-pikir lagi nih kalo ada yang ngasihtau ada drakor on going yg bagus. Takut addicted berlebihan kayak gini lagi 😑. Walaupun memang ngga semua berakhir seperti ini. Kayak barusan kemarin sambil jalan nonton Familiar Wife yang juga on going, tapi di tengah-tengah akhirnya berhenti karena ngga sreg lagi dengan jalan ceritanya. Tapi kalo harus addicted lagi kayak Thirty But Seventeen ini waaaaah..lemah hati aku Bangg! 😩